Mudik Minim Sampah
Mengapa kita harus melakukan perjalanan mudik, dengan minim sampah? 'Sekitar 35.000.000 Kg. Sampah bertambah karena aktifitas mudik selama 14 hari, maka itu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menghimbau para pemudik untuk melakukan perjalanan dengan minim sampah". Berita itu membuatku merasa tergerak untuk menjadi pemudik yang tidak nyampah.
Kami berangkat dari rumah tanggal 17, dengan menyiapkan sejumlah peralatan untuk menghindari kami dari sampah plastik. Aku membawa botol minum, kotak makan, sapu tangan, rantang, tote bag, dan beberapa kain lap. Untuk minuman berasa, kami meminta kepada barista, untuk mengganti wadahnya menjadi botol minum yang kami bawa dari rumah. Perjalanan dari rumah sampai ke tujuan pertama yaitu Kaliurang, kami sama sekali tidak menghasilkan sampah makanan dan kemasan, sedikitpun.
Menurutku dengan mengurangi penggunaan sampah tidak hanya baik untuk bumi, tetapi juga baik untuk dombet. Aku jadi merasa bahwa ini adalah sebuah pencapaian besar karena kita semua sudah tau kalau, sampah plastik sudah menjajah kehidupan kita bertahun-tahun yang lalu.
Bahkan kini kebutuhan kecil pun sudah digantikan dengan produk sekali pakai. Seperti contohnya adalah piring plastik, gelas plastik dan kertas, jas hujan, mangkuk, dan bahkan kini galon sudah ada yang bisa sekali pakai.
Sayangnya di Kaliurang, kami harus menghasilkan sampah. Diantaranya ada galon, kemasan Indomie, dan bungkus jajanan. Tetapi ketika kami tidak bisa menghabiskan makanan diluar, kami memasukannya kedalam rantang, dan dihabiskan ketika sudah lapar kembali. Dengan cara itu kita bisa lebih hemat dan tidak ada sampah makanan.
Kami melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Karanganyar dan masih mengupayakan untuk tidak menyampah. Ada beberapa makanan yang tidak bisa dihindari untuk tidak memakai sampah plastik, seperti oleh-oleh yang kami bawa,
dan botol plastik mineral yang kami beli. Sebab minum yang kami bawa sudah habis.
Kami menginap di dirumah Mbah Uti, selama sepuluh hari sembilan malam. Selama disana aku hanya menghasilkan sampah sekitar empat macam. Diantaranya adalah kemasan tolak angin dan botol mineral. Saat lebaran, semua orang makan dengan piring yang dilapisi kertas minyak. Sementara itu, aku memilih untuk memakai piring beling yang tersedia di dapur.
Aku melakukan zero waste bukan sekedar untuk bumi, tetapi untuk menjaga kelestarian kepada makluk hidup lain. Karena kita hidup di bumi ini berdampingan bersama binatang, tanaman, dan makluk hidup lainnya.
Comments
Post a Comment